Pengaruh Integrasi Perdagangan Terhadap Sinkronisasi Business Cycle ASEAN+3

28 Apr

Maksud dari tulisan saya sebelumnya menjelaskan tentang Kerjasama perdagangan regional dan business cycle adalah karena saya akan berbagi hasil dari penelitian skripsi saya mengenai Pengaruh Integrasi Perdagangan Terhadap Sinkronisasi Business Cycle ASEAN+3.

Sejak berdirinya ASEAN (Assocation of Southeast Nation) pada tanggal 8 Agustus 1967, perdagangan diantara lima negara pendiri ASEAN tidak mengalami perkembangan yang signifikan, dimana hingga awal 1970an perdagangan diantara negara ASEAN hanya berkisar antara 12 sampai 15 persen. Oleh sebab itu skema kerjasama ekonomi negara-negara ASEAN sengaja dibentuk untuk mengatasi masalah ini. Salah satunya adalah melalui Preferential Trading Agreement (PTA) pada tahun 1977, dimana disetujuinya persamaan tarif dagang antar negara-negara ASEAN. Selanjutnya untuk lebih meningkatkan kerjasama ekonomi dan perdagangan ASEAN, maka pada ASEAN Summit keempat pada tahun 1992 di Singapura diluncurkan gagasan tentang rencana pembentukan wilayah perdagangan bebas ASEAN atau yang lebih dikenal dengan ASEAN Free Trade Area (AFTA).

Keberhasilan Uni Eropa membentuk satu pasar tunggal mengilhami ASEAN untuk melakukan hal yang sama. Pada KTT ASEAN Oktober 2002 di Kamboja, PM Singapura Goh Cok Tong mengusulkan agar di tahun 2020 dibentuk apa yang disebutnya sebagai pasar tunggal ASEAN mencontoh keberhasilan pembentukan pasar tunggal Eropa yang diberlakukan di kawasan Uni Eropa. Usulan ini langsung mendapat dukungan penuh dari PM Thailand Thaksin Shinawatra dan PM Malaysia Mahathir Mohammad. Ide ini akhirnya terwujud dengan ditandatanganinya Bali Concorde II pada tanggal 7 Oktober 2003, yang menyepakati terbentuknya ASEAN Community pada tahun 2020 dengan tiga pilar utama: ASEAN Security Community, ASEAN Economic Community dan ASEAN Socio-Culture Community. Kemudian presiden JETRO Jepang, Osamu Watanabe, mengusulkan agar kerjasama ekonomi ini tidak hanya meliputi negara-negara ASEAN. Tetapi ditambah dengan tiga negara besar di kawasan Asia Timur, yaitu Jepang, RRC, dan Korsel, sehingga dikenal dengan ASEAN+3.

Saya mengambil sampel lima negara utama ASEAN yaitu Indonesia,  Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand (ASEAN-5) ditambah tiga negara Asia Timur, yaitu Jepang, China dan Korea Selatan (Korsel). Penambahan Jepang, China dan Korsel dilakukan untuk melihat derajat integrasi perdagangan ketiga negara tersebut, sejalan dengan usul untuk memperluas kerjasama ekonomi di ASEAN menjadi ASEAN+3. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh integrasi perdagangan terhadap sinkronisasi business cycle ASEAN+3.

Dengan menggunakan metode panel data pada software E-views 5.1 hasil penelitian saya menunjukkan bahwa meningkatnya sinkronisasi business cycle China dengan ASEAN+3 lebih dipengaruhi oleh meningkatnya perdagangan intra industri  serta semakin terkoordinasinya kebijakan nilai tukar antara China dengan ASEAN+3. Hasil estimasi untuk negara Jepang menunjukkan bahwa meningkatnya volume perdagangan dan perdagangan intra industri antara Jepang dan ASEAN+3 belum meningkatkan sinkronisasi business cycle Jepang dan ASEAN+3 dimana meningkatnya sinkronisasi business cycle lebih dipengaruhi oleh semakin terkoordinasinya kebijakan moneter antara Jepang dengan ASEAN+3. Dapat diketahui sinkronisasi business cycle Korea dengan ASEAN+3 lebih dipengaruhi oleh meningkatnya demand spillover serta semakin terkoordinasinya kebijakan moneter dan kebijakan nilai tukar Korea dengan ASEAN+3.

Hasil estimasi untuk negara Indonesia menunjukkan terjadinya integrasi perdagangan hanya akan mengurangi sinkronisasi business cycle Indonesia dengan ASEAN+3. Meningkatnya perdagangan intra industri akan meningkatkan sinkronisasi business cycle Malaysia dengan negara ASEAN+3. Hasil estimasi untuk Filipina didapatkan bahwa meningkatnya intensitas perdagangan hanya akan mengurangi sinkronisasi business cycle Filipina dengan ASEAN+3 dimana meningkatnya sinkronisasi business cycle lebih dipengaruhi oleh meningkatnya demand spillover dan semakin terkoordinasinya kebijakan nilai tukar Filipina dengan ASEAN+3. Meningkatnya sinkronisasi business cycle sangat dipengaruhi oleh meningkatnya perdagangan intra industri Singapura dengan ASEAN+3.  Hasil estimasi menunjukkan meningkatnya intensitas perdagangan dan perdagangan intra industri akan mengurangi sinkronisasi  business cycle Thailand dengan negara ASEAN+3.

Berdasarkan hasil penelitian saya, dapat diambil kesimpulan terjadinya integrasi perdagangan belum memberikan manfaat yang sama bagi negara-negara ASEAN+3. Dimana negara-negara dengan tingkat perekonomian yang lebih rendah belum memperoleh keuntungan dari terjadinya integrasi perdagangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: