AFTA (Asean Free Trade Area)

28 Apr

AFTA merupakan salah satu bentuk dari kerjasama perdagangan Regional di kawasa ASEAN, seperti yang sudah saya bahas dalam tulisan sebelumnya.

Tujuan AFTA adalah untuk meningkatkan kerjasama ekonomi antar negara ASEAN guna mencapai pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang berkesinambungan bagi semua negara anggota ASEAN, dimana hal tersebut sangat penting bagi pencapaian stabilitas dan kemakmuran di kawasan. Tujuan strategis dibentuknya AFTA adalah untuk meningkatkan keunggulan komparatif negara ASEAN sebagai satu kawasan / unit produksi tunggal (single production unit) dan pasar tunggal (single market).

Pencapaian tujuan AFTA dilakukan melalui penghapusan hambatan tarif dan non-tarif dengan target penurunan mencapai 0 sampai 5 persen yang memiliki muatan ASEAN sebesar 40 persen dalam kurun waktu 15 tahun sejak pemberlakuan ketentuan pada tahun 1993 atau pada tahun 2008. Mekanisme penurunan tarif dilakukan melalui penerapan Common Effective Preferential Tariff (CEPT). Namun pada tahun 1994 disepakati untuk mempercepat proses liberalisasi menjadi 10 tahun, sehingga perdagangan bebas kawasan dapat tercapai pada tahun 2003. Tujuan dari pengurangan tarif dan non-tarif serta tidak adanya hambatan perdagangan antar negara ASEANĀ  adalah untuk mencapai efesiensi ekonomi, produktivitas tinggi, dan lebih kompetitif (Dwisaputra, 2007).

Cakupan produk dalam CEPT-AFTA meliputi semua produk industri dan barang-barang hasil pertanian. Namun demikian, masih ada produk yang belum mengalami penurunan tarif dengan alasan produk tersebut tergolong sensitif untuk diperdagangkan secara bebas di ASEAN. Karenanya, ada yang disebut sebagai daftar komoditas sensitif dan sangat sensitif. Untuk produk-produk sensitif tersebut penurunan tarif 0 sampai 5 persen sudah dilaksanakan pada tahun 2010. Dalam menerapkan CEPT, kesiapan dari masing-masing negara tentu tidak sama. Enam negara ASEAN yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Brunei Darussalam saat ini telah memberlakukan tarif 0 sampai 5 persen. Sementara Vietnam siap tahun 2006, Laos dan Myanmar menyatakan kesanggupannya untuk menerapkan tarif sebesar 0 sampai 5 persen pada tahun 2008, sementara Kamboja pada tahun 2010 (Hanie, 2006).

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: